Senin, 19 Desember 2011

Optimalisasi Pengelolaan Dana Jaminan Sosial Tenaga Kerja Diperlukan Penyesuaian Terhadap PP Nomor 22 Tahun 2004

JAKARTA – Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2004 tentang Pengelolaan dan Investasi Dana Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Selama ini, PP Nomor 22 Tahun 2004 menekankan pilihan portofolio investasi yang didasarkan pada prinsip likuiditas, rendah risiko, serta juga berdasarkan prinsip keamanan dan optimalisasi hasil. Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga, diperlukan penyesuaian terhadap PP Nomor 22 Tahun 2004 terkait perkembangan perekonomian yang ada. Dalam hal ini, revisi diperlukan agar hasil pengelolaan dan investasi dana program jaminan sosial tenaga kerja bisa lebih optimal. PP Nomor 22 Tahun 2004 kan sudah tujuh tahun. Sudah cukup lama dan perlu penyesuaian seiring perkembangan ekonomi dan dunia usaha nasional, kata Hotbonar kepada pers di Jakarta, (19/12) Dia mengatakan, untuk 2012, Jamsostek akan menganggarkan dana investasi sebesar Rp 118 triliun-Rp 120 triliun dari dana program jaminan sosial, sedangkan aset Jamsostek sendiri diperkirakan bisa mencapai Rp 125 triliun pada 2012. PT Jamsostek (Persero) berharap pemerintah bisa merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2004 tentang Pengelolaan dan Investasi Dana Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Selama ini, PP Nomor 22 Tahun 2004 menekankan pilihan portofolio investasi yang didasarkan pada prinsip likuiditas, rendah risiko, serta juga berdasarkan prinsip keamanan dan optimalisasi hasil. Dengan pertumbuhan investasi sebesar 18 persen rata-rata per tahun, selama ini pola investasi Jamsostek relatif sama setiap tahunnya, di mana portofolio investasi sekitar 40 persen untuk obligasi (negara/pemerintah dan badan usaha milik negara), 30 persen untuk deposito perbankan (mayoritas bank BUMN) serta 20 persen untuk saham, dan 5 persen untuk reksadana. Sedangkan sisanya penyertaan modal secara langsung, baik di bisnis properti dan lainnya. Hingga Oktober 2011, dana kelolaan investasi sebesar Rp 112 triliun dan aset sebesar Rp 115 triliun. Sebagian besar investasi merupakan instrumen jangka panjang yang ditempatkan di saham dan obligasi. Kalau pun saat indeks lemah, maka didiamkan saja. Perhatikan saja dari awal tahun sampai akhir 2011 ini, relatif landai. Namun, hasil investasi di saham misalnya, pengembaliannya rata-rata bisa 18 persen setahun, tuturnya. [leo bmb]

Tidak ada komentar: